FYI about duren…


dari milis jalansutra.

Kalau JS-ers perhatikan, sekarang musim duren sudah mulai tiba.
Bukan musim duda keren karena Tora Sudiro baru cerai, tapi duren
beneran – buah berduri yang kontroversial itu. Karena baru-baru ini
mencicipi duren Medan di seberang Taman Makam Pahlawan Kalibata,
saya jadi iseng ingin membahas topik ini.

Duren, atau bahasa Indonesia benernya durian, adalah buah yang
disebut sebagai ‘King of fruits’. Buah ini hanya ada di Asia
Tenggara, dapat ditemui di Thailand dan Malaysia. Malaysia bahkan
(hmm, lagi lagi Malaysia) menunjukkan kegiatan makan durian sebagai
salah satu daya tarik wisata dalam iklan periwisatanya yang Truly
Asia itu. Dan sekarang durian menjadi semakin terkenal di dunia. Di
Cina, kini sudah lumrah jika restoran-restoran menyediakan semacam
kue sus dengan krim rasa durian sebagai penutup.

 Di supermarket Cina
seperti Lotus dan Bai Run Fa pun sudah mulai banyak dijumpai durian
bangkok.

Lalu, mengapa namanya ‘King of Fruits’? Apakah ada yang tahu? Saya
punya teori soal yang satu ini. Tahukah Anda, bahwa konon hanya ada
tiga jenis hewan yang bisa makan durian? Ini berdasarkan cerita
teman saya yang asli dari Kisaran, wilayah Selatan Sumut yang kaya
durian. Ketika ia kecil, setiap musim durian ia selalu menunggu di
tepi hutan durian bersama teman-temannya. Jika terdengar
suara `Bluk!’ yang keras, pertanda durian jatuh, maka ia dan teman-
temannya harus bergegas lari untuk mencari pohonnya dan mengambil
buahnya, karena mereka tidak boleh kalah cepat dengan ketiga
binatang tadi.

Yang pertama, adalah harimau Sumatra. Ya! Harimau, walaupun pemakan
daging, konon juga suka makan durian, dengan memecahkan buah durian
menggunakan kukunya yang tajam (BYKS ya…buat orang Medan, hehehe).
Yang kedua, adalah gajah Sumatra. Gajah biasanya datang bergerombol,
dan menginjak buah durian matang dengan kakinya sehingga terbelah,
lalu dengan belalainya mengambil buah durian dan memakannya utuh
beserta bijinya. Kalau yang ini betulan, karena saya pernah liat di
TV, hehe. Yang ketiga, orangutan. Monyet biasa tidak bisa makan
durian, hanya orangutan yang cukup cerdas untuk menghindari durinya
dan memecahkan kulit durian dengan tangannya. Jadi, sebutan `King of
Fruits’ adalah konon karena harimau, sang raja rimba, juga suka
durian. BYKS yah, mungkin ada JS-ers yang bisa memberikan argumen
yang lebih benar!

Durian sendiri ada beberapa jenis: petruk, medan, bangkok. Rasa
duren sendiri dibagi menjadi tiga kategori utama: manis, pahit, dan
mentega. Kalau Anda mau mencicipi semua rasa ini, harus bertandang
ke daerah Glugur di Medan. Disinilah bisa ditemukan durian paling
hebat sedunia, dengan harga sekarang barangkali Rp 10.000,- per buah
(tahun 2005 masih dapat Rp 5.000,-). Di kios-kios yang rapi, dimana
disediakan juga air minum dan kobokan, duren ditata berjajar
menunggu pembeli, beserta beberapa orang `durista’ – istilah saya
untuk barista duren, hehe. Ya! Para durista ini dengan hidung dan
goloknya yang sama-sama tajam siap membantu memilihkan duren sesuai
selera Anda. Mau yang manis, pahit, atau mentega! Kalau tidak cocok,
buang saja, tidak perlu bayar! Saya yang orang Bandung, dimana harga
duren bisa mencapai Rp 50.000,- per buah, geleng-geleng melihat
orang Medan membuang duren yang rasanya tidak cocok. Herannya juga,
para durista ini sangat piawai dalam memilih rasa!

Bagaimana definisi rasanya? Yang manis, seperti duren bangkok – rasa
manis mendominasi, dengan daging yang biasanya tebal dan tekstur
yang agak kering. Kalau pahit, lain lagi. Biasanya, buah durennya
umurnya sudah cenderung tua, hampir busuk. Namun, dalam kondisi ini,
buahnya akan cenderung moist atau basah, dengan tekstur yang juga
lembut. Rasanya agak pahit karena konon kadar alkoholnya (saya harus
selidiki lagi apakah ini alkohol betulan atau tidak) yang katanya
tinggi. Buat penikmat duren pahit, rasa manis justru cenderung
membosankan. Nah, yang creme de la creme (dali nya dali ni horbo
bahasa Bataknya) adalah mentega. Yang ini sulit dijelaskan rasanya –
rasanya mengambang diantara manis dan pahit – tidak terlalu manis,
mungkin lebih cenderung hambar. Tapi, teksturnya aduhai – tidak
terlalu moist, tapi juga tidak kering, dengan konsistensi seperti
mentega. Aromanya pun khas, wangi, tidak nyegrak seperti yang pahit
atau cemplang seperti yang manis, tapi aroma yang sexy, merambat
perlahan-lahan keatas hidung, membuat merem melek orang yang
memakannya. Nah, nggak heran Julie Perez pernah menyanyi soal belah
duren – rupanya dia sedang bicara soal konsistensi dan aroma yang
bikin merem melek, hahahaha!

Cara menyantap duren sendiri di Indonesia ada bermacam-macam. Orang
Betawi, biasa menyantap duren bersama kopi pahit. Malah, ada
beberapa yang mengambil buah duren dan mengaduknya bersama kopi!
Tabrakan rasa antara pahit kopi dan manis duren menurut saya
overwhelming, tapi rupanya rasa ini digandrungi orang Betawi. Di
Sumatra, seperti Pekanbaru, duren biasa disantap dengan pulut atau
ketan manis, kadang-kadang dibubuhi parutan kelapa. Di Malaysia,
saya melihat duren disantap dengan lemang, atau ketan yang
dipanggang di dalam bambu. Hal yang sama juga saya liat di Takengon,
Aceh. Orang Melaka, konon bisa menyantap durian dingin dengan nasi
panas. Orang Medan, biasanya dari kalangan Tionghoa, kadang-kadang
sering adu nekat dengan makan duren sambil minum bir – yang bisa-
bisa membuat jantung stroke.

Nah, dimana makan duren di Jakarta? Setahu saya, ada beberapa
tempat. Yang pertama adalah di Jalan Pramuka, dengan harga berkisar
antara Rp 30.000 – Rp 50.000,- sebuah, kalau sedang musim. Di
Kalibata, yang baru saja saya sambangi, lumayan murah harganya – Rp
20.000,- untuk duren medan kecil. Di Bekasi Barat, sesudah Met Mall
ke arah Jakarta, juga ada kios-kios duren, namun harganya relatif
mahal, berkisar Rp 40.000,- 50.000,-. Di Bandung, kios durian yang
terkenal adalah Jalan Gardujati dan Jalan Kebonjati, dari arah
Kelenteng atau Sudirman. Harganya jangan tanya, mahal banget di
Bandung, maklum kota gunung yang tidak ada pohon duren. Di jalan
menuju Sukabumi, ada duren khas dari Rancamaya, walaupun kini mulai
langka. Warso Farm di Bogor juga menjadi salah satu alternatif makan
duren yang walaupun sedikit mahal tapi rapi dan bersih tempatnya.
Dimana lagi makan duren? Ayo kita sharing disini!

Cheers,

-Harnaz-

4 Responses

  1. durian?gw banget \!!! oishii…. se-bulat bida aku abisin ndiri, ampe kleyeng-kleyeng

    wan,,,,ko ga bahas rambutan?? bukankah engkaw ngidam ntuh buah?heuheu…….

  2. Hmmm Durian …. Hueeeenaaak tenan !!!
    I Love Durian!
    Pokoknya enak. Kapan-kapan kasih durian buat saya ya Ka..^^

    Ka, gimana sih caranya bikin artikel kita tuh ada tulisan “read more” ???
    Soalnya baru belajar bikin blog nih…
    Mohon bantuannya..
    ThankS

  3. Huaa…durens…..

    I love duret \^0^/

    tapi sayng takut darah tinggi kambuh
    gaswat
    bisa tepar ditempat
    ckckckck…

  4. Bagi penggila durian, jangan lupa untuk memperhatikan kulitnya….
    Bahaya kalo keinjek, apalagi kalo gak sengaja ketelen, hihi..

    Di daerah Nusalaut (Maluku area-red) uang Rp.10.000 bisa dapet duren 3 buah! sekedar info aja..Jangan ngiler ya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: