Ratapan seorang anak ber-IPK rendah


Mahasiswa belum cukup kuliah (saja)

“Saya dulu pernah membaca sebuah surat kabar,di sana dikatakan kalau kita bertahan hidup bukan karena pendidikan kita tapi karena keterampilan kita. Karena itulah selama 20 tahun ini saya hidup dari keterampilan saya sebagai seorang penulis”

(Gede Prama dalam Kick Andy edisi Laskar Pelangi)

https://i1.wp.com/www.unescap.org/unis/common/images/vcd%20cover/We%20can%20do%20it.jpg

Kuliah…lulus…kerja menjadi sebuah frame berpikir yang hampir melanda seluruh mahasiswa. Menjadi sebuah kebiasaan bertindak bahwa menjadi seorang mahasiswa adalah untuk bekerja dalam industri sesuai dengan bidang kuliah saya. Meski kenyataannya lebih dari separuh sarjana tidak bekerja sesuai ijazah pendidikannya. Apalagi sebagian kecil lainnya mahasiswa dengan IPK kurang dari pas-pas an (<2,75) justru makin sulit untuk diserap industri.

Saya bukanlah seorang mahasiswa yang pintar. IPK saya hampir dapat dipastikan akan <2,75. Namun, saya memiliki sebuah paradigma bahwa seorang akan tidak berguna jika ia tidak bekerja. Oleh karena itu, meski saya pun akan termasuk golongan yang tidak diserap industri maka saya harus tetap bekerja, bagaimanapun caranya. Jika tidak bekerja untuk industri/orang lain, artinya saya harus bekerja untuk diri sendiri dan mempekerjakan orang lain. Mulai sejak tingkat dua semester dua saya mulai menyadari kondisi ini, oleh karena itulah sejak itu pula saya mulai berurusan dengan pekerjaan untuk diri sendiri dan mempekerjakan orang lain.

Riwayat kuliah saya dimulai dengan menjadi seorang mahasiswa biologi di ITB. Di sini tidak hanya sekedar kuliah dan praktikum semata. Pembekalan wawasan industri bahkan magang di industri pun menjadi kurikulum unggulan jurusan ini khususnya dan ITB pada umumnya. Metode ini sangatlah efektif bagi diri saya terutama merasakan sebuah proses siklus kecil mulai dari belajar sampai bahan yang telah dipelajari itu menjadi berguna di dunia kerja. Pada kesempatan untuk magang kerja ini, menjadi sebuah momentum yang sungguh tepat untuk menguji pengetahuan yang kita miliki menjadi sebuah keterampilan yang nyata. Di saat ini juga lah fase yang tepat untuk memahami sebagian dari proses jalannya sebuah industri.

Di ITB magang kerja tersebut tercakup dalam mata kuliah “Kerja Praktek (KP)”. Melalui KP inilah mahasiswa mulai memprediksi orientasi kerja mereka saat setelah lulus nanti. Saat berlangsung KP lah saat teori ditemukan dengan praktik yang bisa jadi sangat praktis bahkan tidak terpikirkan sebelumnya. Periode inilah yang memperlihatkan kadangkala teori hanya ada semata di buku, bahkan sebuah ilmu supra-ilmiah menjadi lebih mampu mengatasi persoalan di bidang kerja tersebut.

Saat momen inilah sebenarnya diuji bagaimana seorang mahasiswa mampu memadukan teorinya dengan kebutuhan lingkungan kerja. Dan mahasiswa ini mampu berperforma secara optimal di sana. Inilah apa yang disebut sebagai keterampilan kerja. Semakin mahasiswa tersebut mau dan mampu menunjukkan performa yang optimal, maka semakin dekat lah peluang perusahaan untuk “melamar” lebih awal sang mahasiswa untuk memiliki “cita-cita” segera bekerja di tempat ia melaksanakan KP.

Dari temuan kasus di atas, kiralah ini sebenarnya yang amat diharapkan oleh pihak industri. Bisa mengenal dan mendapat para sarjana yang sempat “belajar” di tempatnya. Namun kenyataannya, seberapa banyak industri yang mau dan mampu menerima mahasiswa untuk melakukan magang atau KP. Dan seberapa banyak pula mahasiswa yang mampu menemukan keterampilannya dan menunjukkan performa yang memuaskan sehingga mampu meyakinkan industri bahwa ia adalah orang yang layak diterima.

Secara garis besar, industri amat sangat mengharapkan dari pegawai yang direkrut didapatkan orang-orang yang langsung mampu bekerja atau minimal siap untuk dilatih. Sementara tidak jarang ditemui di beberapa kampus mahasiswa hanya dirangsang untuk menghafal, menganalisa dan sedikit melakukan (praktik). Bahkan tak jarang di salah satu universitas pendidikan, seorang mahasiswa teknik mendapat tugas praktik yang tidak sesuai dengan kompetensi pendidikannya. Mahasiswa tersebut diminta untuk menjadi guru (?). Akibatnya tak jarang deretan nilai A belum tentu menjamin sebuah sikap kerja yang diharapkan meski sudah diberikan pelatihan bertingkat-tingkat oleh perusahaan.

Disinilah lagi-lagi muncul masalah, ternyata pegawai yang diterima bukanlah orang yang siap dilatih. Mereka hanyalah orang-orang yang siap diberi bahan ajar tanpa mampu menunjukkan hasil apa yang dipelajarinya dalam sebuah keterampilan kerja. Lalu bagaimana agar seorang sarjana mampu menjadi seorang yang siap dilatih?

Kuncinya sangatlah mudah. Proses berlatih adalah saat-saat dimana seorang manusia berinteraksi dengan benda nyata baik yang hidup dan tidak hidup. Dan selama proses pelatihan, biasanya tingkat interaksi manusia-manusia lebih tinggi daripada manusia-alat. Oleh karena itu semakin baik dan produktif hubungan antara pelatih – yang dilatih maka akan semakin optimal jua lah sebuah pelatihan. Baik dari ketersampaian tujuan, pemahaman dan dampak yang diharapkan.

Oleh karena itu, kemampuan berhubungan dengan manusia lah yang sebenarnya menjadi dasar untuk menjawab permasalahan jarak antara output dunia pendidikan dengan dunia industri. Semakin mampu seorang mahasiswa menjalin hubungan kemanusiaan yang baik (silaturahim) maka akan semakin mudahlah ia mendapatkan akses ke dunia industri, semakin luaslah pengetahuan ia akan kebutuhan industri. Karena sejatinya, industri inipun tidaklah diwakilkan pada sebuah SOP, manual, ataupun peraturan semata. Tapi apa yang dikatakan orang-orang representatifnya lah yang tak jarang bisa merangkum dan mensintesa kebutuhan real dunia industri secara lebih fokus.

Karena itu, para mahasiswa janganlah pernah menafikan membina hubungan dan membangun jaringan dengan orang-orang baru. Mencari tahu apa yang belum kita lihat, apa yang belum kita dengar dan rasakan. Berhubunganlah dengan orang lain, luangkan waktu dari belajar dan bermain-main yang konsumtif. “Bermainlah yang produktif”! teruslah perbanyak kenalanmu. Karena hidupmu bukan hanya kuliah saja! Karena dirimu bukanlah apa yang tampak pada transkrip nilaimu! Orang akan menghargaimu karena sikapmu, kepercayaan padamu dan kemampuanmu! Jadilah aktivis! Maka tinggal tunggu waktu, pekerjaan yang tepat akan datang padamu!

Ikhwan Abdillah

Mahasiswa semester 9 jurusan Biologi ITB

HR-Staff dan Program Developer LPSDM Salman ITB

11 Responses

  1. setuju2..😀

  2. Nilai(IPK) disadari / ga, jadr tujuan utama…. tapi….kan kaga menjamin berbanding lurus ma kecerdasan n k pintaran myu… banyak faktor XXXXX (kecewa ma s orang dosen, mrasa berhak dpt A! malah dpt C) harusnya…. proses diliat, ky seorang dosen matkul paling hororrrrr. critanya: ak ga ikut UTS coz sakit, mnta su2lan. g dkasih…. eh,,,, dpt A (pasti karena akyuuu “kirei” apa karena kasian??? hahaha

  3. just do the best aja lah…. lebih baek mana coba?

  4. yoi….
    nyantai aja kang, orang yang IPK tinggi belum tentu mereka memiliki mental yang tinggi….
    dari yang telah saya baca, i believe kesuksesan akan datang for you, brother….

  5. YAKINLAH DENGAN KEKUATAN SILATURAHIM……..

  6. Bener euy, koneksi itu penting bgt. Nyadar bgt ipk 3.75(sumpah gw gk mw naekin lg) gk bgtu berguna tanpa disertai kmampuan skill(soft&hard) dan verbal.

    • @Ndrio: bukan masalahnya ga perlu dinaekin lg ipk nya…jg tak perlu menyesal kalau IPK naik…hehehe
      tapi yg perlu dijawab adalah…”apa yg anda rencanakan dengan IPK (setinggi/serendah)itu? akan digunakan utk apa?”
      ternyata kalau IPK rendah, soft skill rendah, semata korban kemalasan ya ndak guna juga
      IPK tinggi, tapi mengorbankan pengalaman utk meraih softskill ya sayang dnk…

  7. Iya Kang ngerti kok. Kta harus berusaha tetap optimis. Inti permasalahan yg saya hadapi sbnrnya sieh saya lbh ridho kuliah 5 tahun dgn ipk 2.7an di perminyakan itb ato kdktran negri drpd dpt ipk 4 skalipun di institut manajemen swasta. Tapi ya sudah terlanjur bsh sekalian jebur aja di dunia manajemen. Sedih euy. Pesimis kerja di dunia manajemen. Doakan saja. Pokoknya sukses jga ya buat akang.

    • @Ndrio: maafkan drimu lah…toh tempat kuliah ga jamin relasi lebih banyak..ya toh??
      pertanyaan slanjutnya…apakah tempat kuliah menentukan masa depan?

  8. bagaimana kalai IP ituh kita jadikan salah satu “hadiah” yang bsia membahagiakan kedua orang tua kita?🙂 salam kenal…

  9. gmana rasanya dapet IP sama RAPORT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: