Mengarahkan State Of Mind Peserta Pelatihan


dari situsnya mas Ronny F.Ronodirjo (http://ronnyfr.com)

State of mind is everything“, kata Richard Bandler dalam suatu NLP Trainer’s Training, seraya menunjukkan pentingnya kondisi pikiran seorang dalam proses belajar. Kondisi pikiran seorang trainee akan mempengaruhi kemauan dan kemampuannya dalam mempelajari sesuatu. Dalam kondisi pikiran yang buruk, seorang trainee akan sulit menyerap informasi, bahkan informasi itupun akan berasosiasi dengan hal yang buruk, seburuk state of mind-nya.

Sebagai contoh, pada umumnya orang cenderung kurang suka mengikuti suatu acara seminar / training yang layout meja kursi-nya seperti susunan bangku sekolah dulu. Karena layout seperti itu akan memicu kembali memorinya (menjadi anchor) pada perasaan saat sekolah yang serba searah, harus duduk diam, tidak boleh bertanya, menegangkan dan sebagainya. Nah bayangkan, dalam state of mind seperti itu, apakah suatu training akan bisa efektif?

Tulisan ini dimaksudkan untuk situasi pembelajaran baik training, kursus, sekolah, dan lainnya. Untuk menyederhanakan tulisan ini, kita akan selalu menuliskan dalam situasi pelatihan, pengajar/fasilitator disebut trainer dan pesertanya adalah disebut trainee. Jadi tergantung sikon Anda, silahkan ganti kata pelatihan dengan pelajaran sekolah, trainer diganti dengan guru/dosen, dan trainee diganti dengan murid atau mahasiswa, dan sebagainya.

 

Opening State
Pada saat datang ke pelatihan terutama yang inhouse, biasanya state of mind peserta akan berbeda-beda. Sejumlah kecil peserta merasa siap belajar, sebagian yang lain sedang merasa overload (non receptive), dan sejumlah besar lainnya akan freeze (wait and see). Rasanya cukup naif, jika seorang trainer, speaker, dosen atau guru di sekolah menganggap bahwa saat setiap kelas akan dimulai, maka setiap trainee sudah seharusnya siap menerima pelajaran.

Kita sebagai trainer-lah yang seharusnya mengerti bahwa mereka belum berada dalam kondisi siap belajar yang paling optimum. Kita-lah yang membantu mereka menjadi siap, ini adalah bagian dari tugas kita, memfasilitasi.

Nah, sebenarnya kenapa ada peserta yang pikirannya overload? Mereka ini biasanya sedang ada pikiran lain, pekerjaan yang tertunda, tugas yang menanti, dan lainnya. Beban pikiran ini menggelayut di otaknya (conscious), sehingga hanya tersisa sedikit bahkan mungkin tidak ada ruang lagi untuk masukknya informasi baru secara proporsional. Sementara beberapa peserta lain datang ke pelatihan karena terpaksa, mungkin dikirim oleh atasannya karena dianggap tidak kompeten atau terpaksa datang karena udah terlanjur mendaftar dan keluar uang, padahal tiba-tiba ada urusan lain yang mendesak. Mereka ini amat fragile, mudah berubah perilakunya menjadi kurang akomodatif, sebagai manifestasi rasa kesal.

Mengapa juga ada peserta yang freeze? Mereka ini sebenarnya adalah peserta yang emosinya rata-rata, dan jumlah mereka yang paling banyak. Mereka ini menunggu bersikap, menilai dulu kira-kira akan mendapatkan apa di pelatihan ini, baru akan bereaksi. Jika mendapatkan yang mereka inginkan, mereka akan bersikap positif, jika tidak mendapat yang diinginkan, mereka mudah terpengaruh oleh kelompok fragile tadi.

Nah, tentu saja kita dengan mudah bisa menjawab pertanyaan : Apakah kondisi pikiran yang semacam itu akan berdampak positif bagi proses pelatihan? Tentu saja tidak! Jadi bagaimana caranya membawa kondisi pikiran supaya berdamak positif pada pelatihan?

Set Up

Dalam pendekatan NLP, di awal suatu training / session, seorang trainer harus melakukan suatu set up. Apanya yang di set-up? Kondisi pikiran trainee-lah yang di set-up, agar siap dan berada pada kondisi paling optimal untuk proses akusisi pengetahuan, ketrampilan dan sikap baru.

Jika Anda sebagai trainee, dan boleh disuruh memilih, kondisi pikiran apa yang Anda butuhkan saat belajar, kira-kira Anda memilih apa? Tentunya kondisi pikiran yang paling memiliki daya serap tertinggi. Dalam pelatihan NLP for Trainer atau For Teacher, saya sering mengajukan pertanyaan itu?

Umumnya, jawaban para trainee adalah sebagai berikut :

  • Fun state (santai / menyenangkan)
  • Relaxed State (santai, tidak tegang)
  • Curiosity state (ingin tahu)
  • Interest State (berminat)
  • Receptive State (berdaya serap)
  • Dst

Nah, kondisi diatas, akan membawa trainee ke suatu kondisi yang dikenal sebagai accelerated learning state (kondisi percepatan belajar). Pada kondisi ini, otak akan memiliki kinerja yang amat optimal, sehingga belajar bisa dipercepat, daya serap tinggi, dan juga DDT (Daya ‘Dhong’ Tinggi, lawannya DDR: Daya ‘Dhong’ Rendah).

Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana caranya mencapai kondisi percepatan belajar ini?

CARA BIASA

Trainer umumnya menggunakan musik dan layout ruangan sebagai cara mempengaruhi state of mind traineenya. Lay out ruangan dibuat bersahabat, tidak kering seperti siatuasi kelas / kuliah dengan bangku berjejer seram. Sedangkan penggunaan musik merupakan cara yang paling sering dipergunakan para trainer di kelas, menggunakan musik klasik berirama barock, sehingga gelombang otak menjadi turun ke alpha.

Banyak yang keliru menjelaskan bahwa penggunaan musik dimaksudkan untuk mematikan peran otak kanan supaya tidak mengembara. Salah kaprah ya, otak kanan dalam pembelajaran harusnya jangan dimatikan.
Penggunaan musik seyogyanya menggunakan kualitas sound system yang prima.

Hindari volume yang terlampau keras, gunakan volume yang cukup lembut, dan akan sangat membantu jika speaker kanan dan kiri berfungsi dengan baik. Sehingga bisa menggunakan musik yang bersifat brainentrainment atau binaural beat, yang memberikan efek di telinga kana dan kiri secara berbeda. Tertarik dengan musik seperti ini, silahkan di googling saja. Buku-buku semacam Quantum Teaching dan Quantum Learning membahas cara-cara mengorkestrasi situasi pelatihan seperti ini dengan sangat baik.

CARA NLP

Cara ini bekerja secara berbeda dengan kedua cara di atas, cara ini menggunakan skill dari trainernya untuk mempengaruhi state of mind dari traineenya. Lha, berarti lebih sulit dari cara yang di atas dong? Bukan, ini justru lebih berguna dari cara di atas, karena tidak mengandalkan peralatan apa-apa kecuali diri kita sebagai trainer. Di artikel ini kita akan membahas salah satu metode yang paling penting, yakni penggunaan metaphor, yakni penggunaan kisah atau cerita.

Metaphor boleh saja berupa kisah fiktif seperti fabel atau kisah negeri dongeng lainnya, namun jauh lebih baik jika kisah ini merupakan kehidupan nyata, pengalaman manusia riil. Kisah riil memiliki kemiripan elemen yang lebih dekat dengan situasi riil, karena pelakunya sama-sama manusia, bukan hewan, atau benda-benda dongeng lainnya yang terkadang harus melibatkan imajinasi yang terlalu rumit agar bisa tercipta asosiasi.

Di tangan dingin para pakar NLP, metaphor bisa menjadi suatu alat yang sangat ampuh dalam melakukan suatu pembelajaran, bahkan untuk membuat suatu perubahan, termasuk di dalamnya perubahan sikap. Tokoh yang menginspirasi para praktisi NLP dalam menggunakan metaphor tentu saja adalah Milton H Erickson, dan kemudian di kodifikasi oleh jenius Richard Bandler. Hasilnya, kita semua akhirnya bisa belajar lebih mudah.

Menggunakan metaphor, kita bisa melakukan set-up agar state of mind peserta pelatihan tergiring ke arah tertentu, misal rasa ingin tahu. Kemudian lakukan upaya untuk mengamplifikasi dari state itu sehingga menjadi rasa sangat ingin tahu, lantas tambahkan kekuatannya sehingga menjadi rasa penasaran banget ingin tahu! Nah, pada saat sudah mencapai titik puncak ini, lakukan anchor! Anchor ini bisa dipicu lagi sewaktu-waktu dibutuhkan, asyik sekali bukan?

Penggunaan metaphor yang baik akan digabungkan dengan kemampuan melakukan tonality marking. Yakni memberi tanda-tanda tonality di tempat tertentu sehingga kisah itu bisa memiliki efek hypnotic yang multi layer. Sehingga bisa dilakukan suatu command compounding (menumpuk perintah) yang sangat-sangat subtle (tidak kentara). Benar-benar conversational hypnotic….

Lebih dahsyat lagi bila si trainer sudah bisa menggunakan seluruh gerakan badan (gesture, dll) sebagai bagian dari proses hypnotic itu sendiri. Istilahnya adalah economy of movement, yakni setiap gerakan tubuh sebisanya memiliki nilai ekonomi, dalam hal ini nilai yang berkaitan dengan tujuan komunikasi itu sendiri.

Wow, tentunya lebih mudah melihat contoh langsung dalam pelatihan, dibandingkan saya uraikan melalui kalimat di sini. Akan terlalu panjang lebar jka saya harus mendeskripsikan bagaimana cara kita menceritakan suatu metafora dengan tonality marking di sana-sini dan disertai dengan gerakan gesture yang sesuai. Efeknya? Dramatically hypnotic! Inilah yang menjadi ilmu favorit para peserta pelatihan NLP for Trainer baru-baru ini.

Di level NLP yang lebih advanced, biasanya akan diajarkan lebih jauh lagi yang namanya chaining metaphor, yakni merangkaikan beberapa metaphor sehingga bisa membawa trainee dari satu state of mind ke state of mind yang lain. Salah satu variasi dari chaining metaphor ini adalah yang terkenal dengan nested loops. Yakni merangkaikan berbagai metaphor dengan tujuan membuka suatu loop di pikiran. Ini adalah suatu proses instalasi sikap mental yang bagus bagi pembelajar : loop dalam pikiran yang sengaja dibuka, agar tercipta rasa belum selesai belajar, dan rasa ingin mempelajari lebih jauh lagi!

Catatan
Kawan…, mari berbagi manfaat!
Jika Anda merasa artikel ini bermanfaat bagi Anda……….., mengapa tidak
tuliskan pendapat Anda di sini! Sekarang juga…, kami semua akan segera mendapat manfaat dari pendapat Anda! Apapun itu…, ya khan?
Pendapat Anda akan menambah perspektif bagi kami semua.
Terima kasih sudah bersedia berbagi di sini…

Ronny F. Ronodirdjo.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: