Menggugat Maslow Theory (1)


Maslow pada akhir hidupnya berkata “mungkin saya sebenarnya salah sudah mengeluarkan teori tersebut”

Teori Hierarki kebutuhan Maslow merupakan sebuah teori yang mengusung secara mekanistik tahap pemenuhan kebutuhan-kebutuhan manusia. teori yang mengatakan bahwa manusia akan cenderung mulai memenuhi kebutuhan nya mulai dari kebutuhan fisiologis,keamanan,kepemilikan ,penghargaan lingkungan dan self actualization yang dituangkan dalam bentuk piramida seperti di bawah ini

maslow.gif

dan sayangnya ini pula yang menjadi pola pikir kebanyakan orang yg telah pernah belajar teori tersebut. Sangat disayangkan beberapa rekan kita saat disuguhkan kesempatan bekerja maka pertanyaan yang sering terlontar adalah “Berapa gajinya?” Hal ini menjadi salah satu bukti memang trend saat ini orang-orang ingin memenuhi kebutuhan fisiologis (sehat,makan,tidur) nya melalui transaksi alat tukar berupa uang.  Memang hal ini  tidak salah, tapi mari kita coba lihat beberapa kisah di bawah ini.

Dahulu ada seorang alumni ITB pada tahun 60-an yang lulus dari jurusan mesin. setelah lulus beliau melanjutkan studinya tentang balistik ke negeri Yugoslavia. Sepulang dari sana beliau bergabung di TNI. Pangkatnya saat itu (seingat saya) hanya letnan 1. Pada posisi ia bekerja pertama kali, ia ditempatkan di bagian perbaikan magazin (tempat peluru) jikalau ada senjata yang per (besi pegas)-nya rusak maka ia benarkan. Beliau merasa agak malas juga dengan pekerjaan awalnya ini, masa seorang pakar balistik yang mungkin bisa dihitung dengan jari saat itu jumlahnya di Indonesia cuma ditempatin di gudang bengkel perbaikan senjata??? Bahkan gaji bulanannya pun cuma Rp.1000 padahal saat itu kebutuhan bulanan keluarganya saja mencapai Rp.13.000/bulan

Namun hal itu tidak mempengaruhi semangat beliau di gudang senjata. Dari rutinitasnya ternyata ia dapat memahami ulir putaran per yang baik. Bahkan beliau dengan keinginannya dan kemampuannya untuk mempelajari apa yang ia kerjakan di gudang, akhirnya ia bisa mengaitkan dengan aplikasi ilmu “Statistical in Quality Control”. Bagaimana kuantitas sebaran barang-barang yang baik dan rusak dapat dianalisa dan diprediksi melalui ilmu statistic.

Setelah itu, ia segera ajarkan ke rekan-rekan nya sesama prajurit-prajurit saat itu yang bertugas di gudang mengenai ilmu ini. Ia jelaskan apa itu distribusi normal, apa itu quality control dsb. Sampai suatu ketika, atasannya di TNI yang juga menjadi dosen di ITB datang dan berbicara ke anak buahnya. Beliau berkata “Begini rekan-rekan semua, saya berencana akan mundur dari salah satu mata kuliah yang saya berikan di ITB. Apa ada yang mau menggantikan?”,”Mata kuliahnya adalah Statistical in Quality Control.”

Lalu tokoh kita ini muncul lah perasaan senang dalam hatinya “Wah,ini mah saya bisa….” namun beliau tidak mengajukan diri, lalu tiba-tiba rekan-rekan nya berceletuk “Pak, itu si Pal bisa tuh ngajarin ilmu itu.” “Oia?coba Pal, kamu jelasin ke saya tentang SQC.” “Siap Pak!”. Karena baru saja ia menjelaskan ke rekan-rekan nya jadilah masih begitu nempel ilmu itu di kepalanya. Dengan lancar ia jelaskan tentang SQC ke atasannya tersebut.

“Ok Pal, kamu gantikan saya ngajar di ITB….” dan sejak saat itulah tokoh kita ini mengajar di ITB. Beranjak penghasilannya meningkat dengan hanya berbekal belajar, berbagi ilmu dan aktualisasikan kemampuan diri. Siapakah tokoh kita itu?

ya…tokoh itu adalah salah satu sesepuh kita Pak Palgunadi T. Setyawan

Dengan hanya berfokus pada aktualisasi diri tanpa banyak berpikir berapa gaji yang ia terima, kini tercatat sudah 5 kali pension dan kini masih menjadi dewan komisaris di beberapa perusahaan lokal maupun asing. Begitulah cerita beliau mengenai kariernya.

            Rekan yang budiman, masih banyak contoh-contoh lain yang ternyata member bukti bahwa saat dimulai setiap aktivitas kita untuk mengaktualisasikan diri maka dengan sendirinya akan terdapat pengakuan sosial (pengakuan dari teman dan atasan), lalu setelah itu kita pun akan semakin dicintai, diharapkan dan diberi kepercayaan oleh orang lain. Bahkan dengan sendirinya pemenuhan fisiologis, financial akan terpenuhi dengan sendirinya.

            Sahabat, bukankah Islam memerintahkan kita untuk bekerja bukan untuk mencari uang? kalau mencari uang, pengemis pun mencari-cari uang terus setiap harinya namun jarang sekali kita temui kisah mantan pengemis yang akhirnya diakui lingkungan sosial dan mencetak prestasi dari hasil aktualisasi dirinya.

            Abdurrahman bin Auf dulu saat dipersaudarakan dengan kaum Anshor, beliau segera ditawarkan oleh saudara barunya. “Jika kau butuh harta, maka hartaku adalah hartamu. Jika engkau butuh Istri, maka akan kuceraikan istriku dan kuberikan padamu (hal ini akhirnya Rasul melarangnya”. Namun apa kata Abdurrahman bin Auf? “Tunjukkan aku lokasi pasar.” maka saat itu pulalah harta dan kekayaan segera ia dapatkan. Dan memang Abdurrahman bin Auf termasuk salah satu sahabat yang merupakan pedagang ulung.

            Rasul dulu saat menikah dengan Khadijah ra. maharnya adalah 200 ekor unta. Jika saja harga seekor unta adalah Rp.10 Juta/ekor maka harta kekayaan beliau saat berusia 25 tahun adalah setara atau lebih dari Rp.2 Milyar. Apa yang beliau lakukan?beliau memanfaatkan kemampuan berdagang beliau, dengan modal kejujuran semata.

Sekali lagi bukti bahwa aktualisasi diri lah jalan yang akan membuat kebutuhan-kebutuhan diakui, dipercaya, aman dan terpenuhinya kebutuhan fisiologis mendekat pada diri pelakunya bak magnet.

Pernah kah kita melihat cicak yang kurus kering karena kelaparan? padahal mangsanya adalah nyamuk yang bersayap. Ia hanya bisa merayap, namun cicak tidak pernah terlihat mengeluh ataupun merengut. Datang seekor nyamuk, Hap! lalu ditangkap… ya rejekinya lah yang mendatanginya.

 

    Kawan, begitu banyak bukti dan kenyataan yang dapat mengalahkan ribuan kata-kata. Sudah saat nya kita tidak hanya mencari apa-apa kebutuhan fisik yang bisa kita dapat dari pekerjaan kita, namun harus dan harus aktualisasi diri lah yang menjadi awal niat kita dalam bekerja.

    Jika kebutuhan fisik menjadi orientasi kita, maka kita bukan menjadi bangsa yang “Memikirkan apa yang kita lihat” tapi “Memakan apa yang kita lihat” seperti canda Pak Hatta Rajasa saat berbincang dengan Kami (saat pengajian KALAM Salman)

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: