Saat Ramadhan Kemarin Kita Sudah (Berhasil) Membunuh Biruddin*


Malam itu** saya terbangun saat terdengar suara gaduh di mihrab masjid, ternyata panitia dan peserta itikaf sedang sibuk membangunkan yang lain. Karena sang Ustadz yang akan menjadi imam mengirim sms akan sampai sebentar lagi. Seperti biasa dalam keadaan tidur sudah berwudlu saya segera tilawah sebuah surat yang diturunkan pertama kali pada Rasul. ”yang mengajarkan manusia dengan perantaraan kalam” begitulah terjemah ayat ke-4 surat itu. Sejenak kuberpikir, bisakah ku menjadi kalam tersebut? Lalu kuambil kalam (pena) ku dan kureka ulang berita yang kubaca dan kurenungkan tadi siang.

Di akhir Ramadhan 1427 H terdapat berita dalam salah satu surat kabar nasional seorang lelaki bunuh diri, sebutlah namanya Biruddin. Sebelum tragedi itu terjadi ternyata Biruddin meninggalkan surat ”nak, maafkan Bapak karena lebaran ini tidak bisa membelikan baju baru…” kira-kira seperti itulah isi pesannya. Menurut rekan seprofesi korban yang bersama-sama menjadi tukang ojek, Biruddin beberapa hari ini gelisah karena pendapatannya tidak mencukupi untuk melunasi semua hutangnya termasuk membelikan baju lebaran anaknya dan menyiapkan kue serta penganan untuk menjamu tamu saat lebaran yang tinggal beberapa hari lagi.

Sekilas motivasi dari korban untuk bunuh diri adalah karena kesulitan ekonomi. Namun setelah berpikir lebih jauh penulis melihat bahwa (mungkin) kita semua juga terlibat atas kasus ini. Benarkah itu? Sering para penceramah di akhir Ramadhan berpesan ”alangkah baiknya kalau saat idul fitri nanti bukan baju saja yang baru tapi juga hati yang baru. Kita saling bermaafan dan memberi maaf serta tidak lupa mempertahankan amalan kita selama bulan Ramadhan”. Kira-kira itulah inti pesan yang sering disampaikan. Namun, saat informasi itu masuk, mungkin sebagian besar kita sudah berfokus pada frase pesan yang pertama ” baju baru” sedangkan pesan ”hati yang baru (suci)” kita lupakan. Atau mungkin bisa juga karena sibuk ”menyiapkan hati yang baru” maka berita ini pun tidak terdengar oleh kita yang lebih dari seharian mendekam dalam masjid.

Dari hasil renungan penulis, andil dari kita semua ialah dalam hal menciptakan image hari raya harus ada baju baru atau barang apapun yang baru. Entah kita seorang ibu rumah tangga, anak-anak, karyawan/sales perusahaan dan pertokoan, bahkan apakah kita seorang CEO sekalipun. Ibu rumah tangga merupakan yang paling sering mendapat booklet harga dari mall, biasanya saat akhir Ramadhan akan terdapat diskon besar-besaran. Dari sana kemudian akan beredar pertanyaan ”jeng, udah beli baju di mall ini belum? Murah-murah lho…mau lebaran” akhirnya pertanyaan ini mengalir dengan cepat secara verbal ke seluruh ibu-ibu dan mungkin salah satunya ialah istri Biruddin yang kemudian mengatakan hal ini ke suaminya.

Anak-anak begitu mudah terpengaruh oleh pembicaraan di sekitarnya. Tidak mengherankan anak-anak juga tidak kalah serunya membicarakan barang baru saat lebaran. Mall-mall begitu gencar melakukan promosi baik secara aktif melalui sales dan karyawannya ataupun melalui media massa. Dan sang CEO dan jajarannya menangkap bahwa lebaran ialah peluang pasar untuk banting harga supaya orang-orang lebih bersemangat membeli baju baru. Sehingga dilontarkanlah ide secara progresif mengenai ”clearance sale” atau ”banting harga” di instansi milik mereka agar pendapatan meningkat pesat. Sampai akhirnya (mungkin) informasi ini tersampaikan ke keluarga Biruddin layaknya dunia yang dilipat (meminjam istilah Yasraf Amir Pilliang), begitu cepat dan dekat. Akhirnya pola pikir anak Biruddin terbentuk bahwa lebaran harus punya baju baru dan pesan ini sampai ke sang Ayah. Terjadilah tragedi yang menimpa sang tukang ojek ini. Lalu mahasiswa tidak salah? Belum tentu, para agent of change ternyata tidak cukup jeli melihat hal ini, sehingga dapat dikatakan mahasiswa….(silahkan isi sendiri)

Hal yang simpel namun mematikan. Sekedar budaya ”harus punya baju baru waktu lebaran” yang secara sadar ataupun tidak sadar sudah kita besarkan berhasil memakan korban jiwa. Begitu sepele mungkin bagi kita, sangat halus kehadirannya dan hampir kasat mata. Apakah tragedi ini menunjukkan bagaimana tingkat keberhasilan ibadah kita semua selama bulan puasa? Kita dapat kemenangan dan bergembira di 1 Syawal. Dan saudara kita yang lain saat itu sengsara terinjak oleh lonjakan girang kemenangan dan kegembiraan pada saat yang sama.

Akankah hal ini terulang lagi? Semoga tidak. Mulai terbuka titik terang dan kita mulai tercerahkan bahwa budaya ”Smackdown dkk” jelas-jelas dapat membunuh. Namun mungkin masih ada pihak yang belum mendapat pencerahan akan hal ini. Apakah kita mulai bisa memilah dan memilih budaya yang ingin kita kembangkan? ”budaya mi instan”, ”budaya asal bos senang”, ”budaya yang penting gue yang untung” dan sebagainya yang perlu dengan jeli kita amati. Tidak ada kata dan tindakan lain, segera hapus dan gantikan budaya tersebut. Hilangkan mata rantai setan yang menjerat kita semua dalam kesalahan. Saatnya bergerak! Ciptakan budaya terbaik! Buktikan kita bangsa berbudaya unggul! Wallahua’lam

*Apakah Ramadhan 1427 H sudah ”basi” untuk kita?

** hasil renungan di mihrab Salman saat orang lain sedang berjamaah dan bersimpuh di dua pertiga malam akhir Ramadhan 1427 H

2 Responses

  1. hmm,,,ini ketiga kalinya saya baca tulisan ini (setelah di blog NLYC dan situs asrama) kayanya ikhwan bener2 dapat pencerahan ya

    jadi ingat kata-kata Pak Pal: sekecil apapun, kalo bisa jangan sampai kita (sengaja) berbuat kesalahan, karena meskipun sepele, kalo keterusan lama-lama jadi gede.

  2. hmm.. artikel yang bagus, cukup membuat aku tersadar, coz sempat terpikir tar pas pulang ke surabaya mau minta baju baru..,tapi artikel ini membuatku merenung tentang permintaanku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: